iklan banner

Sabtu, 02 Februari 2019

Enyak Lupa


Entah karena memang faktor usia atau sebab tiga lolli Milkita tak lagi sama dengan segelas susu. Enyak jadi pelupa.

Mulai dari lupa angkat jemuran, lalu malah hujan yang disalahkan. Sampai merajuk enggak mau turun lagi. Kemarau panjang, air langka, jadilah tayamum berjamaah.

Hingga saat Enyak menyingsingkan lengan daster, sambil ngemut permen lolli Milkita favoritnya beliau mengancam kalau hujan enggak mau turun juga, Enyak yang akan naik. Takluk, akhirnya hujan turun begitu derasnya. Kebasahan, lagi-lagi Enyak murka. Sabar ya, jan.

Enyak juga mulai lupa nama anak-anaknya. Sekadar informasi, Enyakpunya empat orang anak yang kesemuanya punya lubang hidung dua.

Anak-anaknya yang perempuan, yaitu aku, Izah, dan Zahro punya hobi yang sama. Mengkoleksi hijab. Tak jarang apa yang dimiliki salah satu akan jadi rebutan yang lainnya. Kecuali pacar, itu rebutnya diam-diam.

Sedangkan, Zul, si anak ketiga ini berbeda. Karena laki-laki jadi dia mengkoleksi high heels. Buat di jual maksudnya.

"Eh, Zul, beliin Milkita ke warung," sahut Enyak di depan televisi.

Karena tak merasa terpanggil aku diam saja.

"Bocah, dipanggil orang tua diem-diem bae," rutuk Enyak.

"Enyak manggil Zul 'kan?" Alisku bertaut.

"Maksudnya Elu, Zah," kilah Enyak.

"Apa, Nyak?" sahut Izah, nongol dari dalam magic com.

"Bukan, maksud Enyak, Zahro."

"Aye, Nyak?" Zahro muncul dari kolong daster Enyak.

"Bukan, etdah, susah amat ya." Enyak mulai kesal.

"Aye Saroh, Nyak-"

"Nah, itu maksudnya Elu Saroh," sela Enyak, "Sana, beli tiga lolli Milkita."

Setelah menerima titah, aku pun beranjak.

"Eh, lupa. Sekalian beli sabun colek ya, Zah,” sahut Enyak lagi.

“Aye Saroh, Nyak!” rutukku.


 Rine Nopianti
Cirebon, 17 Desember 2018.


Sabtu, 26 Januari 2019

Penunggu Ruang Rindu

Menanti malam tiba rasanya begitu menyiksa. Tak kuasa
lagi kutahan gejolak batin.
Walau sudah tak terhitung berapa kali kami bertemu,
beradu rindu.
Sampai akhirnya aku pun tiba bersama malam, disambut senyum manis pada bibir ranumnya di pintu rumah.
"Mas ko sudah pulang lagi," tanya perempuanku, sambil mengaduk kopi.
"Iya. Mas rindu kamu, Dik," jawabku.
"Ah, Mas ini. Jangan-jangan di rantau sana suka genit sama perempuan lain."
"Mana ada, Dik. Mas sudah punya Istri yang sempurna," rayuku seraya melingkarkan
tangan di pinggangnya yang ramping.
"Gombal!" Dia mencubit lembut hidungku.
Ah, ini dia manja perempuanku yang selalu mengundang rindu. Seperti kejatuhan bulan saat kesempatan itu datang.
Dulu aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh. Bila malam datang, diam-diam dari
atas dahan pohon di dekat rumahnya, mengintip untuk sekadar melihat wajah teduh nan rupawan. Kini dia ada dipelukan, menenggelamkan wajahnya di dadaku. Kubelai-belai rambut panjangnya yang lembut tergerai.
"Mas, kok tanda lahir di leher mas hilang?" tanyanya heran. Ia terus memperhatikan
batang leherku. Membuatku gelagapan.
Gugup aku dibuatnya. Entah harus kujawab apa.
"Eum ... masa tanda lahir hilang. Coba cari lagi mungkin tadi tak terlihat, Dik."
jawabku sekenanya.
Mataku membulat menatap cermin yang menempel pada dinding di belakang
perempuan itu.
"Sial. Bagaimana bisa, aku lupa menambahkan tanda lahir dalam wujud manusia ini," gerutuku dalam hati.
Kesal, kedua taringku pun keluar.



Penulis : Rine Nopianti

Senin, 14 Januari 2019

Kado Ayah


"Selamat ulang tahun, Ca."

"Selamat ulang tahun, Fi."

Kedua gadis itu berangkulan penuh kasih. Pada hari yang sama tengah merayakan hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Sweet seventeen yang ditunggu. Untuk meninggalkan jejak kenangan paling berkesan, tak akan terlupakan.

Akan tetapi mereka memilih melaluinya dengan sederhana. Saling menyuapi nasi kuning di dalam kelas, mengaminkan doa satu sama lain, lalu bertukar kado. Ritual yang sudah beberapa tahun ini mereka jalani bersama sebagai sahabat.

"Ya ampun, Ca. Ini ... bagus banget. Terlalu bagus malahan," ucap Sofi setelah membuka kado pemberian Ica. Berisi jam tangan yang tampak mahal. Ada rasa minder dalam benak gadis itu, membandingkan dengan pemberiannya yang hanya berupa sapu tangan berhiaskan sulaman tangan ibundanya.

"Sofi, ini ... ini pasti buatan ibumu 'kan?" Ica mendekap kado dari sang sahabat di dadanya.

"Kamu suka? Maaf ya, Ca. Aku cuma-"

"Fi, aku suka banget."

Sofi menghela napas lega, "Eh, bagus gak, Ca?" tanya Sofi, seraya menunjukkan sebuah gelang dari anyaman benang warna-warni pada teman sebangkunya, Ica.

"Bagus," jawab Ica singkat.

"Ayahku yang buatkan. Ini kado dari Ayah, Ca. Cantik ya?"

Raut wajah Ica berubah. Gadis berseragam putih abu itu meraih tangan Sofi. Ditelitinya gelang yang melingkar di pergelangan tangan sahabatnya. Kemudian segaris senyum tercipta di bibir tipis Ica.
Sofi berdengus, "Semoga yang satu ini nggak akan hilang."

Tak lama berselang denting bel menggema ke seluruh sudut sekolah. Waktunya pulang.

"Aku duluan ya, Ca." Sofi melambaikan tangan sambil berlalu.

"Sampai jumpa besok, Fi," sahut Ica. Nanar mata gadis itu menatap kepergian karibnya di depan kelas. Sofi bersandar manja pada punggung sang ayah. Mereka melaju dengan sepeda motor tua diiringi canda tawa.

Tak ada yang Sofi miliki, tak mampu Ica beli. Kecuali satu hal.

Sekian waktu memendam bara dengki. Saat sahabatnya dengan bangga menceritakan sosok sang ayah. Menggambarkan dengan rinci betapa bahagianya dia hidup dalam naungan kasih sayang keluarga yang lengkap. Sementara Ica menyimpan getir. Menjalani hidup sebagai yatim.
...

Ica menghela napas kasar setelah turun dari sedan hitam yang disediakan untuk mengantar jemputnya pergi. Miris memandang rumah yang tampak mewah tapi seolah tak pernah ada kehidupan di dalamnya.

“Ma,” sahut Ica saat memasuki rumah.

“Mama, hari ini Ica-“ ucap Ica terhenti saat menyadari sang ibu mungkin tak berada di rumah. Seperti biasa.

Sejak sang ayah wafat, ibunyalah yang kini menjalankan usaha keluarga mereka. Kesibukkan melakoni peran sebagai kepala keluarga sekaligus pemimpin perusahaan membuat wanita itu hampir tak memiliki waktu. Untuk sekadar bertegur sapa, apalagi mengingat hari ulang tahun anak perempuan semata wayangnya. Tak seperti dulu.

Berderit suara pintu, Ica memasuki kamarnya dengan lesu. Namun, seketika wajah gadis itu berubah ceria.

“Ayah ingat hari ulang tahun Ica 'kan? Ayah belikan Ica gelang? Mana, Yah, mana?” kata Ica di depan cermin. Gadis itu mengulurkan tangan pada kekosongan di hadapannya.

“Bagus banget. Makasih, Ayah. Ica suka … Ica suka,” sorak gadis itu seraya melompat-lompat ke atas tempat tidurnya yang empuk. Pada kenyataannya, tak ada gelang atau apa pun melingkar di tangan gadis itu.

“Ica … sayang Ayah.” Ica terduduk, tangannya meraih bantal guling lantas dipeluk erat seakan benar-benar sang ayah yang tengah bersamanya.

“Ica rindu, Ayah,” lirih Ica, linangan jatuh dari matanya. Semakian deras, tersedu gadis itu hingga tertidur dengan seragam dan sepatu yang masih melekat di tubuhnya.
Keesokan harinya.

"Gelang ... gelangku mana?” Sofi terlihat panik, ia memeriksa tas hingga kolong meja dan kursi belajarnya.

“Teman-teman, ada yang liat gelangku nggak?" tanya Sofi di muka kelas. Kompak teman-temannya menggelengkan kepala dengan jawaban tidak.

Sofi beringsut duduk di balik mejanya. Sedih bukan kepalang, kali kesekian barang-barang miliknya kedapatan raib entah ke mana. Hadiah-hadiah kecil yang berarti besar dari sang Ayah.

Seorang kawan mendekat seraya menepuk pundak Sofi, "Tadi Gue lihat Ica ngambil gelang itu dari dalam tasmu."

"Apa? Gak mungkinlah, buat apa juga Ica ambil gelang itu."

"Gue cuma ngasih tau yang Gue lihat. Lu tanya aja sama Ica."
...
Tak lama kemudian Ica datang. Rautnya terlihat seperti biasa, tak ada yang mencurigakan. Meski tak percaya, akhirnya Sofi mempertanyakan hal serupa.

"Ca. Lihat gelang yang kemarin aku tunjukkin nggak?"

Alis Ica bertaut, "Gelang?"

"Gelang yang aku bilang pemberian ayahku," lanjut Sofi.

"Aku nggak tau, Fi. Ketinggalan di rumah kali."

"Nggak, Ca. Gelang itu masih aku pakai tadi pagi. Aku buka waktu mau ke kamar mandi, sebentar doang. Sekarang ... hilang." Air mata mulai menggenangi mata Sofi.

Ica mengangkat kedua bahunya, "Aku juga nggak tahu. Ya udah tenang, nanti kubantu cari."

Sofi menutup wajah dengan kesepuluh jarinya. Gadis itu terisak.

Ica melirik dengan pandangan yang entah apa artinya.
Sepulang sekolah dengan alasan ingin meminjam buku, Sofi ikut pulang ke rumah Ica. Padahal ia hanya ingin menuntaskan rasa penasaran, setelah seseorang mengatakan bahwa Ica yang telah mengambil gelang kesayangan miliknya.

Di dalam kamar Ica yang luas, kedua gadis itu gaduh bersenda gurau membicarakan banyak hal. Terlalu banyak tertawa, hingga kering rasanya tenggorokan.

“Aku haus, Ca,” kata Sofi.

“Bentar ya, Fi. Aku ambilin minum dulu.” Ica beranjak pergi dari kamarnya.

Cukup lama Sofi terdiam setelah Ica menghilang di balik pintu. Perang batin, antara harus percaya atau tidak. Bahwa Ica yang telah menjadi sahabatnya semenjak sama-sama duduk di bangku sekolah menengah pertama, mencuri sesuatu yang sama sekali tak ada nilainya.

Pertanyaannya, untuk apa? Apa untungnya bagi Ica, jika benar ia yang telah mengambilnya.

Akan tetapi lalu hati dan pikiran Sofi sepakat. Sebuah kepastian tetap harus ia dapat. Setidaknya agar kemudian hatinya menjadi tenang. Tanpa menanggung prasangka yang tak terjawab.

Sofi bangkit dan bergegas memeriksa tas dan meja belajar Ica. Nihil, tak ada apa pun ia temukan. Beralih ia membuka laci kabinet di samping tempat tidur sahabatnya. Lalu terperangah Sofi saat membuka sebuah kotak kayu, berisikan seluruh benda-benda miliknya yang pernah hilang. Termasuk gelang anyaman benang aneka warna yang baru saja kemarin ia dapatkan, sebagai kado ulang tahun dari sang ayah.

Mata Sofi pedih berair. Tak menyangka akan menemukan kembali benda-benda miliknya di tempat tak terduga.

Suara pintu dibuka. Ica datang dengan gelas jus buah di kedua tangannya.

"Ini min-" ucap Ica tertahan di ujung lidah saat melihat kotak kayu itu berada di tangan sahabatnya.

"Ini apa, Ca?" tanya Sofi seraya mengangkat kotak di tangannya.

Ica bergeming.

"Kalung, pena, jepit rambut ... gelang." Sofi menyebutkan satu per satu benda yang ia temukan. Barang-barang miliknya yang pernah hilang.

"Ca. Kenapa?" Air mata Sofi jatuh tak berpenghalang.

"Ini semua barang murah, Ca. Kamu bisa beli semua ini berapa banyak pun yang kamu mau. Kenapa harus kamu curi milikku? Kamu nggak tau betapa semua benda itu berharga buatku." Marah, nada suara Sofi meninggi.

"Aku nggak nyangka ... sahabatku klepto." Sofi melangkah. Sengaja ia menabrak bahu Ica yang berdiri mematung.

"Bukan tentang harga, Sofi," jawab Ica. Melangkah pelan lalu meletakkan gelas di tangannya ke atas meja belajar. Sofi menghentikan langkahnya.

"Sebab semua benda itu pemberian ayahmu, Fi," suara Ica mulai serak.

"Aku nggak pernah diberi hadiah lagi sama ayahku, Fi," isak Ica.

"Aku rindu Ayah. Aku juga mau kayak kamu. Bercanda sama ayahmu, disayangi ayahmu, diberikan banyak doa di hari ulang tahun oleh Ayah, diberi hadiah ini itu. Aku mau seperti kamu. Tapi ayahku sudah meninggal, ayahku udah nggak bersamaku." Sambil tersedu, Ica pun meninggikan suaranya.
Sofi berbalik, melangkah lalu berhenti di hadapan Ica.

"Itu sebab kamu hanya melihat ketiadaannya, Ca." Sofi memberi jeda, "Aku tahu ... mungkin akan berbeda sebab alhamdulillah, ayahku masih ada bersamaku. Tapi, coba saja kamu anggap ayahmu ada, tetap ada, tetap bersamamu. Dengan atau tanpa raga yang fana. Sebab sebenarnya kamu pun adalah dia. Dirinya yang memecah membentuk manusia baru, yaitu kamu. Dia bersamamu. Bahkan tanpa jarak, Ica."

Wajah Ica tertunduk.

"Jangan tempatkan ayahmu di tempat terjauh, Ca. Apalagi di tempat yang tak terjangkau olehmu," pungkas Sofi, lalu beranjak pergi.

Ica terisak.

"Ca," panggil Sofi di ambang pintu kamar sahabatnya.

Ica menoleh dengan wajah yang basah oleh air mata.

"Aku nggak bisa gantikan ayahmu. Tapi aku sayang kamu, Ca. Selamat ulang tahun, sekali lagi dariku. Bisakah kamu anggap ini ucapan dari ayahmu?" lirih Sofi bertanya.

Ica berhamburan memeluk Sofi. Keduanya menangis.

"Maafkan aku, Fi."

"Kita udah lama berteman, bahkan lebih dari itu. Orang tuaku juga orang tuamu, Ca."
...


Ditulis:
Cirebon, 04 November 2018.

Rine Nopianti

Senin, 07 Januari 2019

Kumandang Adzan Untuk Bapak


Pagi buta. Suara azan Bapak membangunkanku seperti biasa. Satu dua kucekan mata, aku bangkit menyusul beliau ke musala tak jauh rumah.

    Merdu suara azan beliau diakui oleh semua orang. Sebab itu, oleh masyarakat beliau dijadikan muazin di lingkungan kami semenjak aku masih kecil.

    Terkadang, orang-orang membandingkan dengan diriku yang tak pernah sekali pun terdengar mengumandangkan azan.

     Bapaknya muazin, tapi anaknya tak bisa azan.

    "Kamu yang azan ya, Nak," titah Bapak, sambil menyodorkan mic.

    "Bapak saja ya, saya enggak bisa," tolakku.

    "Masa dengar azan tiap hari bilang enggak bisa. Nanti kalau meninggal siapa yang mengazani Bapak kalau bukan kamu."

    "Mmm ... Bapak saja ya." Beliau tersenyum, lalu mengambil alih mic di tanganku.

    Suatu hari, aku tergugah ucapan Bapak pada waktu itu.

    "Jika Bapak meninggal, siapa yang akan mengazani ...."

     Pada akhirnya aku memberanikan diri, mengenyampingkan segala apa pun alasanku dulu tidak pernah mau mengumandangkan azan.

     Dengan suara pelan sambil mengatur isi dada, kukumandangkan azan untuk Bapak. "Pak. Dengarlah anakmu azan," bisikku pada Bapak yang terbaring di liang lahatnya.








Cirebon, 16 November 2018.

Penulis: Rine Nopianti

Inayah

Gelegar petir menyambar. Tak terkira langit memuntahkan hujan. Gelisah, berulang kali kulirik jam yang melingkar di tangan. Hari semakin sore, semestinya aku sudah pergi menjemput putriku dari sekolahnya. Namun, di rumahku saat ini tengah banyak orang berkumpul. Teman, sanak saudara, tetangga jauh hingga dekat, memenuhi ruang keluarga rumah kami yang sederhana. Aku sedikit lupa dalam rangka apa mereka bertamu serempak seperti ini. Pikir dan batinku terlalu sibuk memikirkan putriku. Ia pasti telah lama menunggu.

       Beberapa kali aku mengintip dari balik pintu kamar. Mencari kesempatan, mencuri waktu untuk pergi sebentar. Hingga akhirnya kesempatan itu datang. Mengendap-endap aku keluar dari pintu belakang. Mereka pasti mencari, tapi kupastikan akan segera kembali.

       Resah tak terkira, aku berjalan cepat dengan payung di tangan. Sekolah putriku Memang tak begitu jauh dari rumah kami. Akan tetapi aku kerap mengantar jemputnya hingga ia duduk di kelas sebelas saat ini. Mengingat jalan menuju rumah kami tergolong rawan, banyak kejahatan sudah terjadi.

      "Kau mau ke mana, Dirman?" sahut seseorang yang berjalan ke arah berlawanan.

      "Aku mau jemput Inayah, putriku," jawabku dengan tak menghentikan langkah.

      Samar-samar aku mendengar orang itu kembali menyahut. Tapi tak kuhiraukan, tak ingin membuang waktu. Tergopoh-gopoh aku berjalan melawan badai. Payung di tanganku hampir rusak, tak kuat menahan terjangan angin. Percuma, tubuhku tetap basah kuyup karenanya.

       Lega hati manakala telah sampai di tempat yang kutuju. Putriku masih berdiri di depan gerbang sekolah yang telah tertutup. Tak ada seorang pun di sana, mungkin semua anak sudah dijemput oleh orang tuanya masing-masing.

      "Inayah," sahutku.

      Anakku menoleh, wajahnya pucat pasi. Mungkin kedinginan terlalu lama menungguku datang.

      "Maaf, Bapak lama. Banyak tamu di rumah, enggak enak perginya." Menahan dingin di badan, suaraku bergetar.

      Putriku tersenyum, "Enggak apa-apa, Pak. Yang penting Bapak datang, Inayah takut pulang sendirian."

      Aku menyodorkan bungkusan plastik ke tangannya, "Ini jaket dan jas hujan kamu, Nak. Dipakai ya ... kita segera pulang, kasihan kamu kedinginan."

      Inayah menggelengkan kepala, "Enggak ah, Pak. Inayah mau hujan-hujanan."

     "Eh, jangan. Nanti kamu sakit, Nak."

     "Enggak, Bapak. Itu ... Bapak juga basah-basahan, jadi kita hujan-hujanan aja sekalian, ya."

     "Ya sudah, yuk, pulang." Inayah meraih lenganku.

      Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahuku. Manja. Berjalan pelan kami menikmati guyuran hujan. Kemudian di ujung jalan beberapa orang datang. Tetangga-tetanggaku menghadang kami di jalan.
     "Dari mana saja kau, Dirman?" tanya salah seorang dari mereka.

     "Iya, di rumah kau lagi banyak orang. Kau malah ada di sini," timpal yang lainnya.

     "Maaf, bukan tak sopan. Aku habis jemput dulu Inayah. Udah sore begini anakku belum kujemput pulang sekolah."

     "Astagfirullah. Mengucap kau, Dirman."

     Alisku bertaut, "Kenapa?"

     "Kau harus ikhlas, Dirman. Biar putrimu bisa pergi dengan tenang. Sekarang cepat kau pulang, Inayah mau dikuburkan."

     "Apalah kau ini. Jangan sembarang bicara!" Nadaku meninggi.

     "Siapa yang akan dikuburkan. Inayah ada di-" ucapku terhenti saat tak mendapati lagi Inayah di sampingku. Celingukan mencari. Kupanggil namanya, tetapi ia tak menjawab.

      Salah satu tetanggaku mendekat, menepuk pundakku, "Tabahkan hatimu, Dirman. Inayah ada di rumah. Dia sudah meninggal. Siang tadi, sepulang sekolah dia dihadang orang jahat di jalan ini. Mereka telah membunuh putrimu. Sekarang kau cepat pulang, anakmu akan segera dimakamkan. Polisi juga mencarimu, mereka sudah menemukan pelaku pembunuhan putrimu."

      Rasa tersambar petir aku kala itu. Geli, rasa digelitik aku mendengar ucap mereka perihal Inayah. Aku tertawa terbahak dengan air mata mengucur di wajah. Aku terus tertawa saat mereka menuntutku berjalan pulang. Aku tahu para tetanggaku memang sangat senang bercanda, tetapi kali ini candaan mereka sungguh sangat keterlaluan. Lalu hampa, kosong seketika terdalamku. Menatap wajah cantik putri semata wayangku terbaring dibalut kain putih. Inayahku telah menjadi mayat.

      Aku mengutuk hujan yang turun hari ini. Aku mengutuk diriku sendiri, sebab hujan menghalangiku pergi siang tadi. Hingga para jahanam itu yang lebih dulu menemui putriku, mengantarkan ia pulang menghadap Tuhan. Dalam ketidaksiapanku.



Cirebon, 20 November 2018.

Penulis: Rine Nopianti

Doa Kita Tidak Menuju Langit Yang Sama


...
"Sudah berapa lama kita bersama, Nah?" tanyanya seraya menautkan jemari kita di atas meja kayu.

Aku berdengus meluruh sesak dari rongga paru, "Dua tahun."

"Benarkah ... bahwa kita telah terlalu lama membuang waktu, Nah?"

Dia menghunus pandangan tepat di nyaliku. Manik matanya berkilau, sesilau langit siang itu. Aku membuang wajah, kalah. Pertahananku goyah, air mata tumpah.
...

Apa kami tengah menyesal, memberi nama pada debar yang terkadang membuat napas tersengal. Nyatanya semakin sempit kini dada kami, kendati abu-abu telah berganti warna merah muda. Setengah nekat saling mengakui cinta. Berbagi kasih, lalu kelu setiap kali tanya menuntut jawab. Akan ke mana cinta kami menuju.
...

Meski alhamdulillahku kaujawab puji Tuhan, tetap erat tangan kami menjabat sepakat. Percaya suatu kelak cinta akan menemukan jalan. Namun, nyatanya kian tersesat dalam labirin tanya, entah siapa yang pada akhirnya rela mengalah di antara kami berdua.
...

"Jangan lancang mempertanyakan ketentuan Tuhan!" jawab tegas Ayah, semakin membuat genggaman kami melemah.

Keberaniannya bertemu kedua orangtuaku hari itu termentahkan keadaan, tetapi kami tetap sepasang sayap yang saling mengepak untuk terbang. Hasrat untuk bersama semakin menambah khusyuk doa, kami merayu Tuhan. Di atas sajadah panjang sujudku melekat tanpa sekat, dia di gereja tertunduk khidmat.
...

"Tuhan itu satu 'kan, Nah?" tanya lelaki itu dalam sejuk senja di bangku taman.

"Iya."

"Lalu kenapa DIA menjadikan kita berbeda?"

Aku memejamkan mata, mengerti ke arah mana dia bawa pembicaraan kami.
"Manusia yang membuat perbedaan itu ada."

"Atas kehendak Tuhan, Jannah." Ia menghela napas.

Pada akhirnya keteguhan iman kami meyakini kasih Tuhan, mengalahkan keras hati untuk membuktikan bahwa cinta tak terkalahkan perbedaan. Seperti aku yang tak mungkin mengikutinya, dia pun tak mungkin mengikutiku. Perlahan kami terus meregang jalinan-jalinan yang telanjur erat mendekap. Demi nama kebaikan luka koyak di dada kami saling sembunyikan.

"Kau percaya bukan, Nah. Tuhan itu Maha Cinta? Maha Pengasih dan Penyayang."

Aku mengangguk pasrah, dengan air mata membasahi wajah.

"Maka hari ini, aku kembalikan kau pada Sang Maha Cinta." Nadanya melemah, terbata menahan isak yang sama.

Aku bergeming.
Saat itu aku adalah sehelai dedaunan menguning, yang tengah bersiap terlepas dari dahan kering.

"Seindah arti namamu, Jannah. Surga yang terjaga kesuciannya. Aku tak menyesal kita pernah bersama, tapi mereka benar. Kita tak semestinya menawar ketentuan Tuhan. Tetaplah menjadi surga bagi orang-orang yang kau sayangi, Kekasih. Kau akan tetap ada di sini." Tegas ia menunjuk satu titik di dadanya yang bidang.

"Biarkan aku ... tetap dalam cinta, tanpa harus melanggar garis batasan kita, sebagai hamba," pungkasnya.

Selesai, kisah ini telah usai.
Di atas dunia, kembali melangkah di jalan berbeda. Sebab doa kami tak menuju langit yang sama.

Cirebon, 13 Oktober 2018


Penulis: Rine Nopianti.

MELAMAR


...
Malam itu aku pergi dengan terburu-buru. Adalah hal lumrah jika aku datang terlambat dari waktu yang dijanjikan, tetapi kali ini Marni pasti akan marah. Cukup lama kami tak bertemu, ini saatnya membayar lunas rindu.

Duduk berdebar di dalam taksi yang melaju. Beberapa kali aku melirik wajah sendiri di kaca persegi panjang yang tertempel di bagian atas mobil. Terngiang lagi bagaimana beberapa waktu lalu berulang kali wanita berlesung pipi itu meminta kepastianku. Hubungan kami telah cukup lama terjalin.

"Nikahi aku segera kalau kamu serius, Mas," ucapnya di kencan terakhir kami waktu itu.

Kemarin aku adalah laki-laki yang takut untuk berkomitmen. Ketidaksiapan merantai langkahku untuk bahagia dan membahagiakan wanitaku. Namun, tidak kali ini.

Berhenti di sebuah taman, tempat yang acap kali menjadi titik pertemuan. Pada sebuah bangku panjang Marni duduk menungguku seperti biasa.

Debar tak keruan. Semoga aku tak akan lupa kalimat yang sudah aku persiapkan sebelum berangkat menemuinya.

"Sayang," sapaku.

Marni mendengus kesal, "Jam berapa ini, Mas?"

"Maaf, Sayang. Tadi-"

"Macet? Atau lupa kita janjian jam berapa?" sela Marni.

Aku menggaruk kepala yang tak gatal, kemudian duduk di sisi lain bangku panjang.
"Kok, sepi ya, Sayang?" tanyaku, berusaha mencairkan suasana.

"Iyalah, udah malam," jawabnya masih dengan memalingkan wajah. Marah. Bibir ranumnya mengerucut di antara dua pipi gembil, menggemaskan.

"Sayang. Mas mau katakan sesuatu," ucapku seraya menggenggam jemari tangannya yang lentik.
"Apa?" ketusnya.

Aku menghela napas panjang, mengumpulkan segenap keberanian, "M-maukah kamu menikah denganku?"

Marni menoleh. Matanya tak lepas menatapku, mungkin tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Mas. Kamu-"

"Mau nggak? Kalau nggak ya sudah Mas pulang," selorohku.

Marni berdecak, lalu sejurus kemudian memelukku erat.

"Aku mau," bisik Marni. Kubelai rambut panjangnya yang tergerai. Lega, niatku tersampaikan.

"Mas punya sesuatu," kataku sambil merogoh saku baju.

"Apa, Mas?" Marni penasaran.

Di hadapannya kubuka sebuah kotak kecil berbentuk hati berwarna merah, berisikan cincin bermata jeli. Hasil kerja kerasku selama ini.

Marni menutup mulut dengan kedua tangan. Lapisan kaca segera membayang di mata sayunya.
"Ini nggak seberapa, tapi semoga kamu suka. Mas pakaikan ya?"

Marni mengangguk. Kuraih tangan kiri wanitaku, lantas dengan sedikit gemetar menyematkan cincin tanda cinta di jari manisnya.

"Kamu suka?" tanyaku.

Marni bergeming. Wajahnya berubah, rona bahagia tak lagi terpancar di sana.
"Kenapa, Sayang? Kamu nggak suka sama cincinnya?"

Marni memutar tubuhnya membelakangiku, "Cincinnya jelek. Dia menembus jari tanganku, Mas."

Aku membisu, menunduk menatap cincin yang tergeletak di atas bangku. Sesal kembali menghujam jantung tiada ampun.

"Maaf, Sayang. Andai malam itu Mas tak datang terlambat menemuimu di sini. Kamu mungkin tak akan terbunuh oleh penjahat-penjahat itu," isakku.

Marni menangis lirih dengan darah mengucur di sekujur tubuhnya.

Cirebon, 14 Desember 2018.

Penulis: Rine Nopianti.

Kamis, 20 Desember 2018

Romansa Bertetangga


Kata bijak mengatakan hidup hanya sebentar. Iya, sebentar-sebentar diomongin tetangga. Sejak gadis, hingga kini aku telah menjadi Nyonya si Tuan Rambut Klimis. Bisik-bisik tetangga tetap saja terdengar sadis. Miris.

Dulu, ada yang menyebutku perawan tua. Padahal usia baru kepala dua. Ada juga yang membandingkan dengan anaknya yang masih usia belasan, tapi sudah dua kali naik pelaminan.

Sudah kupasang tembok tebal, tetapi bisik-bisik tetangga tetap saja merembes di indera pendengaran. Lupa tak pakai No Drop rupanya. Ianya menusuk tepat di jantung. Nyesek.

Bosan sungguh menjadi tajuk utama rumpi emak-emak bangsa yang berjajar rapi di teras rumahnya, sembari ngemil kutu dari rambut satu sama lain. Konon, penambah protein juga peningkat kadar hemoglobin.

Hingga pada suatu ketika datang seorang pria jantan bertandang. Semua mata tertuju padaku, manakala rombongan datang mengetuk pintu.

“Assalamualaikum, Ibu-ibu,” sapaku seraya melambaikan tangan. Memamerkan cincin bermata jeli yang melingkar di jari manis. Mereka tersenyum sinis.

Untuk sesaat terbebas dari polusi suara, cuap-cuap manja para tetangga. Mereka kehilangan bahan gosip. Entah mungkin telah menemukan korban baru untuk hidupnya dikuliti habis.

Lalu semua berubah saat Negara Api menyerang. Sebab tak berselang lama kemudian kami menyebar undangan, mereka bilang aku kebobolan. Padahal jika pun bermain sepak bola posisiku itu bukan sebagai kiper atau penyerang. Akan tetapi di luar lapangan. Duduk manis bersuara lantang, menyalahkan wasit, menyoraki pemain, memprotes regulasi. Padahal kalau disuruh merumput, baru lari seperdelapan lapangan saja sudah ngos-ngosan.

Namun, pada akhirnya aku bisa bernapas lega. Walau sempat diterjang badai Katrina yang berasal dari mulut tetangga, aku dan suami bisa bersatu dalam ikatan suci. Kami pun hidup bahagia, untuk selama-lamanya.

Eh, ceritanya belum tamat. Sini, kembali merapat.

Pagi hari saat asap mengepul dari cangkir-cangkir kopi. Lantang terdengar suara abang tukang sayur memanggil. Serempak kami, para ibu rumah tangga keluar dari balik pintu rumah dengan kostum masing-masing. Ada yang mengenakan daster merk artis, ada yang berbalut sarung garis-garis. Namun, ada juga yang tak memakai sehelai benang pun, hingga bulu-bulunya terpampang nyata. Kucing peliharaan salah satu tetangga maksudnya.

Mulai dari krisis dunia, hingga artis yang mendua. Beralih topik ke kabar politik, lalu ujung-ujungnya membicarakan orang yang tak ada. Sudah biasa.

“Kok, belum isi, Neng Lastri?” tanya Bu Saroh seraya memilah-milah sayuran di atas gerobak.

“Punya anak itu jangan ditunda-tunda, masa rezeki ditolak,” timpal Bu Minah seraya mengangkat kedua alis celuritnya.

“Anak saya loh, Ibu-ibu, lagi hamil anak kedua. Seumuran ‘kan ya sama Lastri usianya?” sahut Bu Joko.

Serempak mereka menjawab, “Duh, beruntung anaknya subur ya, Bu Joko.”

Aku hanya bisa tersenyum getir sambil meremas daun kangkung. Sayurannya yang kuremas-remas, tukang sayurnya yang meringis, menatap sambil menangis. Kurang greget gimana coba situasi kala itu.

Usia pernikahanku baru menginjak bulan ketiga, tapi para tetangga sudah menuding kami mandul hanya karena belum adanya buah hati.

“Kenapa?” tanya Suami saat aku pulang dengan wajah berminyak dan bertekuk tak ubahnya bungkus gorengan kemarin sore.

“Di tukang sayur tadi ibu-ibunya nyindir terus. Gara-gara kita belum punya anak,” rengekku.

“Habis dari tukang sayur? Sayurannya mana?” Suami celingukan melihat tanganku yang kosong.

“Tadi beli kangkung, tapi aku petikkin sepanjang jalan. Kesal.”

Suamiku tepuk jidat, aku tepuk Pramuka, “Sudah, jangan dengarkan kata orang. Kamu ‘kan kalau badmood jadinya makan terus. Nanti gendut.”

Aku jadi terngiang saat kumpul arisan kompleks tiga bulan ke belakang.

“Jadi perempuan harus pintar jaga badan. Jangan sampai baru punya anak satu badan udah melar, nanti suaminya direbut orang. Apalagi kalau yang belum punya anak, tapi sebadan isinya cuma lemak,” kata Bu Joko, matanya melirik tajam ke arahku.

Saat itu aku baru benar-benar percaya bahwa gajah di pelupuk mata bisa tak tampak. Aku memang merasa akhir-akhir ini berat badanku meningkat. Ada gumpalan bakpao empuk mengembang di kedua pipi, yang kerap jadi kegemasan suami. Namun, tetap saja dibandingkan denganku tubuh mereka dua kali lipat. Bukan, bukan … tapi berlipat-lipat. Mereka saling terkekeh, terpaksa aku turut haha hehe.

Perkataan Bu Joko saat itu cukup menghantui. Kata orang, rumput tetangga akan terlihat lebih hijau. Namun, aku sedikit berlega hati. Pasalnya kanan dan kiri rumah tetanggaku sudah memasang paving block. Akan tetapi gusarku tak berhenti. Bagaimana dengan tetangga depan? Tetangga belakang? Atau yang rumahnya di sebelah timur laut dan barat daya hunian kami?

Sejak masa itu aku bertekad untuk diet. Memutuskan untuk sementara tak mengkonsumsi nasi, agar tubuhku kembali seksi. Sebagai gantinya aku hanya makan lima lontong di pagi hari, lanjut kupat tahu saat makan siang, juga bakso untuk makan malam.

Alhasil, aku sukses menginap di rumah sakit selama dua minggu. Sepertinya lambungku merindukan nasi. Benar kata Dilan, rindu itu berat. Tubuhku sekarat.

Selalu ada hikmah pada setiap kejadian. Sakitku berhasil membantu menurunkan berat badan. Dengan penuh percaya diri, tukang sayur yang sedang dikerubungi emak-emak bangsa kuhampiri.

Aku telah sehat kembali, juga sudah sangat siap mendengar para tetangga memuji bentuk tubuh idealku kini.

“Ya ampun, Lastri. Kok, kamu kurus sekali? Kamu nggak bahagia hidup sama suami?” celetuk Bu Saroh.

“Apa uang dapurmu kurang? Atau jangan-jangan suamimu kurang perhatian, ya?” Bu Minah menimpali.

Dadaku seketika sesak. Mataku bergerak-gerak cepat mencari apa yang bisa kupakai sebagai pelampiasan emosi.

Namun, secepat kilat abang tukang sayur merentangkan tangan, melindungi barang dagangannya dengan wajah memelas, “Tolong, cukup kangkung saya saja yang waktu itu menjadi korban.”

Akhirnya aku pulang tanpa dendam.

Seperti buah simalakama. Tetangga adalah kerabat terdekat, orang yang tercepat akan membantu saat tertimpa musibah. Walau tak jarang, ada saja tetangga yang justru membuat susah.

Kala senja aku pulang untuk melarung letih, penat setelah bekerja sepanjang hari.

Peluh mengucur di dahi, tiba-tiba Bu Saroh yang tinggalnya di depan rumah kami menyahut di balik pagar besi, “Eh, Lastri baru pulang kerja ya?”

“Iya, Bu,” jawabku dengan senyum manis.

“Udah nikah kok masih kerja? Berapa sih gaji suaminya?”

Aku berdengus, “Ya, Alhamdulillah, Bu! Cukuplah buat bulan depan beli mobil baru,” ketusku.

Ujung bibir Bu Saroh menyungging, sambil meraih ponsel di saku dasternya ia berbalik.

“Halo, Papi, pokoknya Mami mau mobil baru,” ucapnya seraya berlalu.

Setelah memasuki rumah, aku bersungut-sungut seraya menjatuhkan tubuh ke atas sofa.

"Ada apa lagi? Pulang-pulang cemberut," tanya Suamiku.

"Tetanggamu itu loh. Apa-apa ditanyai. Memangnya salah kalau udah nikah aku masih kerja? Pakai acara tanya gajimu berapa," rutukku.

“Jangan terlalu dipikir. Kalau ada orang yang ngiri, kita nganan aja. Jangan ikutan ngiri nanti malah tabrakan,” kelakar Suamiku lalu terkekeh.

Cirebon, 06 Desember 2018.

Rabu, 05 Desember 2018

Kesayangan



Walau sabtu malam berganti nama malam minggu, kita tetap hanya jadi aku dan kamu.

Barangkali terlalu muluk berharap, sementara kau terus melempar senyum padaku tanpa syarat. Juga tanpa makna pada waktu yang bersamaan.

Apa mungkin ini tanda aku mulai lelah, menjadi sumber tawa juga bahagiamu tanpa pernah bisa menjelaskan rasaku.

Aku pernah mencobanya, mengisyaratkan betapa kau lebih dari berarti. Tapi aku sadar, kau hanya mendengar tanpa memahami yang kusampaikan. Upayaku, berakhir sampai di situ. Mencoba berdamai dengan keadaan, tetap bisa bersamamu telah cukup.
...
"Miko, aku sedih," ucapmu dengan wajah tertunduk lesu.

Kamu datang ke tempat yang tepat. Beri aku waktu lima menit, kau akan kembali tersenyum, batinku.

Peristiwa penting apa dalam hidupmu yang tak kuketahui. Mulai dari kau jatuh hati, sampai bila cintamu patah kembali. Aku ada di sini.

Lima menit yang kujanjikan pun berlalu. Kau telah lupa akan sedih yang tadi dibicarakan padaku.

Berlarian, saling kejar sambil tertawa. Sampai kita sama-sama tersungkur kelelahan.

"Gemas aku sama kamu, Miko," ungkapmu. Pasrah saja kubiarkan kau mencubit pipiku dengan kedua tangan lembutmu.

Kau pasti tau itu sakit, tapi, terkadang memang cinta sesakit itu bukan?

"Makasih ya, Miko. Kamu selalu buat aku ketawa," katamu lagi.

Apa aku patut berbangga? Saat sering kauucap bahwa sekali pun hanya diam, cukup dengan bersama kau akan bahagia. Aku menjadi makhluk tak tau diri, sejak mulai mengharapkanmu. Mengingkari kenyataan bahwa kita memang tak mungkin lebih dari ini.

Mungkin selamanya takdirku memang hanya untuk menjadi pengobat sepimu. Pelarian sedih, juga tempat berlabuh hanya jika dunia tak tersenyum padamu.

Seperti malam ini, padam senyummu entah apa terjadi. Aku memilih tak bertanya, seperti biasa.

Menghampirimu saja. Yang kutau hadirku selalu bisa kau terima, apa pun rupa suasana hatimu.

Menyadari hadirku, seketika senyum menggantikan murung wajahmu. Erat kau memelukku, menciumiku, kubiarkan saja jemari halusmu itu membelai tubuhku sesukamu.

"Miko ... Miko ... Miko," suaramu. Kau sangat suka menyebut namaku berulang kali.

Ah, andai saja aku bisa menjadi sepertimu, menjadi manusia.

"Meeeoow," jawabku. Kau pasti mengerti, iya kan?




Cirebon, 04 September 2018.


Rine Nopianti